Total Tayangan Laman

Jumat, 17 Februari 2012

Ajaran Tentang Budi Pekerti



Ajaran Tentang Budi Pekerti, Menggapai Manusia Sejati


Dalam khasanah referensi kebudayaan Jawa dikenal berbagai literatur sastra yang mempunyai gaya penulisan beragam dan unik. Sebut saja misalnya; kitab, suluk, serat, babad, yang biasanya tidak hanya sekedar kumpulan baris-baris kalimat, tetapi ditulis dengan seni kesusastraan yang tinggi, berupa tembang yang disusun dalam bait-bait atau padha yang merupakan bagian dari tembang misalnya; pupuh, sinom, pangkur, pucung, asmaradhana dst. Teks yang disusun ialah yang memiliki kandungan unsur pesan moral, yang diajarkan tokoh-tokoh utama atau penulisnya, mewarnai seluruh isi teks.

Pendidikan moral budi pekerti menjadi pokok pelajaran yang diutamakan. Moral atau budi pekerti di sini dalam arti kaidah-kaidah yang membedakan baik atau buruk segala sesuatu, tata krama, atau aturan-aturan yang melarang atau menganjurkan seseorang dalam menghadapi lingkungan alam dan sosialnya. Sumber dari kaidah-kaidah tersebut didasari oleh keyakinan, gagasan, dan nilai-nilai yang berkembang di dalam masyarakat yang bersangktan. Kaidah tersebut akan tampak dalam manifestasi tingkah laku dan perbuatan anggota masyarakat.

Demikian lah makna dari ajaran Kejawen yang sesungguhnya, dengan demikian dapat menambah jelas pemahaman terhadap konsepsi pendidikan budi pekerti yang mewarnai kebudayaan Jawa. Hal ini dapat diteruskan kepada generasi muda guna membentuk watak yang berbudi luhur dan bersedia menempa jiwa yang berkepribadian teguh. Uraian yang memaparkan nilai-nilai luhur dalam kebudayaan masyarakat Jawa yang diungkapkan diatas dapat membuka wawasan pikir dan hati nurani bangsa bahwa dalam masyarakat kuno asli pribumi telah terdapat seperangkat nilai-nilai moralitas yang dapat diterapkan untuk mengangkat harkat dan martabat hidup manusia.


                                                                                                                   Bagaimana pemahaman budi pekerti dalam agama Hindu? Nilai budi pekerti dan sikap negatif sudah tersebar dalam ajaran agama Hindu. Beberapa di antaranya sbb.; 
1. Nilai Budi Pekerti 
* Tri Marga:
 (a) Bhakti Marga, meliputi bhakti kepada Tuhan dan bhakti kepada orangtua dan guru. Bhakti kepada Tuhan dengan dilaksanakannya ajaran-ajarannya dan bhakti kepada orangtua dan guru dengan malaksanakan amanatnya. 
(b) Karma Marga, dilaksanakan dengan melaksanakan tugas sebaik-baiknya untuk dipersembahkan kepada orang lain dan Tuhan. 
(c) Jnana Marga, menuntut ilmu sebanyak-banyaknya untuk bekal hidup dan penuntun hidup. Akan pentingnya ilmu itu dinyatakan dalam kitab Bhagawadgita, Sarasmuccaya dan Nitisara. 

* Tri Warga: 
(a) Dharma, berbuat berdasarkan atas kebenaran. Melaksanakan kewajiban sebagai anggota masyarakat, (b) Artha, memenuhi harta benda kebutuhan hidup berdasarkan kebenaran, dan 
(c) Kama, memenuhi keinginan sesuai dengan norma-norma yang berlaku. 

* Catur Paramita: 
(a)Maitri, bersahabat dengan orang-orang baik budi, 
(b) Karuna, kasih sayang kepada orang yang menderita, 
(c) Mudita, bergembira kepada orang yang berbuat kebajikan, dan 
(d) Upeksa, menjauh dari orang-orang buruk budi. 

* Rwa welas brta sang brahmana: 
Dharma (kebenaran), Satya (setia, jujur), 
Tapa (mampu menahan diri),
Dama (sabar, tahu menasihati diri sendiri), 
Wimatsaritwa (tidak dengki), 
Hrih (tahu malu), 
Titiksa (tidak cepat marah), 
Anasuya (tidak jahat), 
Yajna (rajin ber-yajna ), 
Dana (senang berderma), 
Dhrti (kalem dan tenang), dan 
Ksama (sabar dan senang mengampuni). 

*Dasa Yama Brata: 
Anrsangsa (tidak mementingkan diri sendiri), 
Ksama (sabar, tahan uji), 
Satya (jujur), 
Ahimsa (tidak menyakiti), 
Dama (sabar), 
Arjawa (tulus hati),
Priti (welas asih), 
Prasada (jernihnya pikiran), 
Madhurya (manisnya pandangan dan perkataan), dan 
Mardawa (lembutnya hati). 

2. Sikap Negatif * Sad Ripu/Tujuh Musuh: 
Kama (nafsu), 
Lobha (serakah), 
Krodha (kemarahan), 
Moha (bingung), 
Mada (mabuk), dan 
Matsarya (iri hati). 

* Sapta Timira/Delapan Kegelapan: 
Surupa (ketampanan), 
Dhana (kekayaan), 
Guna (kepandaian), 
Kulina (kepandaian), 
Kulina (kebangsawanan), 
Yowana (keremajaan), 
Sura (minuman keras), dan Kasuran (keberanian). 
* Dana Mala/Sepuluh Kecemaran: 
Tandri (malas), 
Kleda (suka menunda-nunda waktu), 
Laja (pikiran gelap), 
Kutila (suka menyakiti hati orang), 
Kuhaka (keras kepala), 
Metraya (angkuh), 
Mengata (kejam), 
Ragastri (suka memperkosa wanita), 
Bhaksa Bhuwana (suka membuat orang lain menderita), dan 
Kimburu (senang menipu). 

Lalu, apa itu tatakrama? 
Tatakrama adalah kebiasaan sopan santun yang disepakati dalam lingkungan pergaulan antar manusia setempat. Tatakrama juga sering disebut etiket. Dalam perkembangannya, etiket tidak hanya berarti kartu undangan dengan sopan santun yang tertulis di dalamnya, namun tatakrama yaitu sopan santun dalam pergaulan. Etiket lebih menekankan pada tata aturan sikap dan perbuatan yang lebih bersifat jasmaniah atau lahiriah saja. Penerapan etika lebih bersifat filosofis, budi pekerti lebih bersifat operasional humanity yang mempermulia martabat manusia. Ajaran budi pekerti tidak menerima mentah-mentah sifat-sifat bawaan manusia secara alamiah saja namun menerimanya dengan mempermulianya menjadi sifat-sifat yang terpuji.



                                                                                                                                                   
AISHA SALSABILA menulis:
Ada dua pendekatan untuk mendefenisikan akhlak, yaitu pendekatan linguistik (kebahasaan) dan pendekatan terminologi (peristilahan). Akhlak berasal dari bahasa arab yakni khuluqun yang menurut loghat diartikan: budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Kalimat tersebut mengandung segi-segi persesuaian dengan perkataan khalakun yang berarti kejadian, serta erat hubungan dengan khaliq yang berarti pencipta dan makhluk yang berarti diciptakan. Perumusan pengertian akhlak timbul sebagai media yang memungkinkan adanya hubungan baik antara khaliq dengan makhluk dan antara makhluk dengan makhluk. Defenisi akhlak secara substansi tampak saling melengkapi, dan darinya kita dapat melihat lima ciri yang terdapat dalam perbuatan akhlak, yaitu : 1. perbuatan akhlak adalah perbuatan yang telah tertanam dalam jiwa seseorang, sehingga telah menjadi kepribadiannya. 2. perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah dan tanpa pemikiran. Ini berarti bahwa saat melakuakan sesuatu perbuatan, yang bersangkutan dalam keadaan tidak sadar, hilang ingatan, tidur dan gila. 3. bahwa perbuatan akhlak adalah perbuatan yang timbul dari dalam diri orang yang mengerjakannya, tanpa ada paksaan atau tekanan dari luar. Perbuatan akhlak adalah perbutan yang dilakukan atas dasar kemauan, pilihan dan keputusan yang bersangkutan. Bahwa ilmu akhlak adalah ilmu yang membahas tentang perbuatan manusia yang dapat dinilai baik atau buruk. 4. bahwa perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan sesunggunya, bukan main-main atau karena bersandiwara 5. sejalan dengan ciri yang keempat, perbuatan akhlak (khususnya akhlak yang baik) adalah perbuatan yang dilakukan karena keikhlasan semata-mata karena Tuhan, bukan karena dipuji orang atau karena ingin mendapatkan suatu pujian.
Oleh: Bonhoeffer Dietrich *)

Agama, Akar Budi Pekerti
         Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia agama adalah suatu system atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan (dewa dan sebagainya) dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan itu. Kata agama berasal dari bahasa sanskerta a berarti tidak dan gama yang berarti ricuh, dengan demikian agama mempunyai pengertian tidak ricuh atau tenteram. Sehingga apabila seseorang meyakini suatu agama tertentu, maka hidupnya akan tenang, tenteram dan bahagia. Sedangkan budi pekerti adalah tingkah laku, watak atau perangai manusia yang berkonotasi pada murah hati atau baik hati dengan tingkah laku yang baik.
            Antara agama dan budi pekerti seolah-olah bagaikan dua sisi mata uang yang tidak mungkin untuk dipisahkan. Tetapi pada dasarnya seperti telah disebutkan di atas bahwa agama adalah sebuah system yang memerlukan suatu proses dan mekanisme, sedang budi pekerti adalah salah satu bagian hasil dari proses tersebut. Oleh karena itu apabila seseorang dalam menjalankan tuntunan agamanya dilakukan dengan benar dan ikhlas, maka proses dan mekanismenyapun akan berjalan dengan baik, dan akhirnya akan membuahkan hasil yang baik pula.
          Terlepas dari satu akidah tertentu, pada dasarnya semua agama pasti mengajarkan tentang suatu kebaikan. Agama Islam yang disampaikan oleh Rasulullah Muhammad SAW. mengajak kepada umat manusia untuk dapat menjadi orang yang muttaqien, suatu derajat yang paling tinggi di hadapan Allah SWT. Muttaqien tidak “sekedar” menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah SWT, tetapi dalam kehidupan bermasyarakat mempunyai implementasi untuk “berhati-hati” dalam menapaki kehidupan di dunia yang fana ini. Kehati-hatian tersebut diibaratkan bagaikan seseorang yang sedang berjalan disuatu jalan yang banyak dengan onak dan duri. Dalam agama Kristen, Yesus mengajarkan cinta kasih antar sesama umat manusia. Pengertian cinta kasih tersebut mengandung arti dan makna yang sangat dalam dan sangat luas. Salah satu ajaran dalam Agama Hindu misalnya ajaran Astabrata, dan Agama Budha dengan ajaran dari Sidarta Gautama yang telah menemukan hakikat hidup, semuanya adalah petunjuk bagi umat manusia untuk dapat berproses menuju ke kebaikan. 

Menurunnya Nilai-Nilai Budi Pekerti
           Kira-kira sejak tahun 1990 an satu dasawarsa di penghujung Millenium Kedua, kita mulai menyadari akan adanya kejanggalan-kejanggalan, dan penyimpangan-penyimpangan perilaku para generasi muda anak bangsa Indonesia. Merebaknya tawuran antar pelajar, perang antar kelompok, serta merajalelanya narkoba hingga ke segala lapisan masyarakat, merupakan suatu fenomena yang harus kita cermati. Kita sebagai warga bangsa harus peka terhadap munculnya fenomena-fenomena seperti telah disebutkan di atas. Dan kita harus tanggap mengapa hal itu dapat terjadi di lingkungan kita? Dan bahkan merata dalam skala nasional.   Padahal tidak ada pilihan lain, bahwa penerus perjuangan dan penerima tongkat estafet dalam mempertahankan kebesaran bangsa dan negara ini adalah generasi muda. Oleh karena itu kita harus mempersiapkan suatu generasi yang tangguh dan tanggap, yaitu satu generasi yang dapat menerima dan menjalankan amanah dari para pendahulunya.
       Dari pengamatan para pakar maupun pemerhati “pendidikan”, seperti banyak dibicarakan dalam seminar-seminar, maupun di mass media, munculnya fenomena-fenomena seperti disebutkan di atas adalah disebabkan oleh menurunnya nilai-nilai budi pekerti anak bangsa ini, bahkan secara ekstrim dapat dikatakan bahwa generasi muda calon penerus bangsa ini “mungkin sudah tidak kenal” lagi apa itu budi pekerti dan bagaimana implementasinya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Benarkah menurunnya nilai-nilai budi pekerti bagi generasi muda kita disebabkan karena hapusnya pelajaran budi pekerti di sekolah-sekolah formal? Apabila ya, saya kira hanyalah salah satu faktor saja, sebab pendidikan budi pekerti yang paling efektif adalah yang berlangsung didalam kehidupan masing-masing keluarga batih. Sehingga dengan perkembangan pola hidup masyarakat yang cenderung ke modernisasi (westernisasi), maka akibatnya tidak terciptanya hubungan yang “kental” didalam keluarga batih, seperti antara anak dengan orang tua, antara cucu dengan nenek dan sebagainya. Bahkan pada keluarga-keluarga batih yang telah disibukkan dengan rutinitas kehidupan duniawi, kadang-kadang tidak ada komunikasi diantara anggota keluarga tersebut. Oleh karena budi pekerti hanya dapat diberikan melalui komunikasi dan suri tauladan dalam kehidupan sehari-hari, maka hal itu tidak mungkin dapat ditemukan dalam lingkungan keluarga batih yang “super sibuk” dengan urusan keduniawian. Cerita-cerita dongeng sebelum tidur yang dikisahkan oleh nenek kepada cucunya, saat ini mungkin sudah tidak kita temukan lagi, padahal dongeng tersebut selalu berupa cerita-cerita fiksi yang sarat dengan petuah-petuah dan gambaran-gambaran tentang kehidupan manusia serta mengandung ajaran budi pekerti yang sangat luhur. Dan ini mungkin merupakan faktor utama terjadinya penurunan nilai-nilai budi pekerti bagi generasi muda kita. Hilangnya beberapa elemen pendukung terbentuknya budi pekerti manusia di atas harus kita pikirkan bagaimana caranya untuk menutupi, mencari ganti dan mengembalikan elemen-elemen yang hilang tersebut.

 Kegiatan Olah Seni : Satu Alternatif
         Memang, untuk membekali agar terwujudnya budi pekerti yang baik bagi generasi muda dan anak-anak kita yang paling utama adalah pengetahuan dan pemahaman keagamaan. Saya yakin, apabila seseorang benar-benar taat menjalankan syariat agama yang dipeluknya, insya Allah mereka akan mempunyai budi pekerti seperti yang kita harapkan. Tetapi, pengetahuan dan pemahaman tentang keagamaan ini tidak cukup apabila hanya kita percayakan kepada pendidikan di sekolah-sekolah formal yang jumlah jam pelajarannya sangat terbatas serta kualitas akidah yang masih dibawah standard kebutuhan. Oleh karena itu perlu tambahan-tambahan dalam mengisi kekurangan tersebut, yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstra kulikuler, misalnya dalam kegiatan kesenian.
         Di setiap daerah pasti mempunyai kesenian tradisi yang diwariskan oleh para leluhurnya. Biasanya kesenian tradisi tidak hanya mempunyai muatan olah seni, tetapi selalu dilengkapi dengan muatan-muatan spiritual yang mengandung nilai-nilai luhur. Salah satu contoh misalnya seni tari, di Jawa ada Tari Gambyong, di Makassar ada Tari Pakarena, di Kalimantan ada Tarian Giring-Giring, Manganjan, ataupun Tombak-Telawang. Jenis-jenis tarian tradisi tersebut masing-masing mempunyai muatan nilai-nilai luhur yang dapat dikaji dari masyarakat pendukungnya. Oleh karena itu, dalam kegiatan olah seni tari tersebut materi yang diajarkan kepada anak-anak tidak hanya keluwesan tubuh, tetapi perlu diberikan pula pengetahuan tentang hal-hal yang bersifat filosofis antara lain makna ataupun nilai-nilai luhur yang terkandung dalam wujud kesenian tersebut. Demikian pula untuk jenis kesenian lainnya seperti teater, dan lukis atau seni rupa.
         Dalam proses pembelajaran seni teater tersebut anak didik kita beri pengetahuan dan pemahaman tentang sifat dan karakter tokoh-tokoh yang diperankan dalam suatu adegan atau cerita. Dengan demikian mereka akan faham betul mana sifat ataupun watak manusia yang baik dan bagaimana watak atau karakter yang buruk serta apa akibat yang akan dirasakannya. Demikian pula untuk kegiatan seni rupa, seorang pengajar atau guru lukis tidak hanya mengajarkan bagaimana menggambar yang baik, komposisi warna yang indah, tetapi saat mencotohkan figur atau objek lukisan para pengajarnya harus mampu memberikan apresiasi yang luas tentang objek tersebut. Sebagai contoh, apabila kita sedang memberikan cara-cara menggambar seekor binatang, maka tidak hanya bagaimana melukis dengan anatomi binatang yang benar, tetapi perlu dijelaskan pula tentang sifat ataupun watak dari binatang yang sedang kita gambar. Bilamana kita mengajarkan menggambar pemandangan, maka kita harus mampu bercerita tentang sistem lingkungan alam dalam kaitannya dengan kehidupan manusia. Gambaran, penjelasan, ilustrasi dan apresiasi yang terus menerus kita berikan kepada anak-anak kita, lambat laun akan tertanam dalam otak dibawah sadar mereka. Gambaran tentang watak ataupun karakter manusia, hewan dan makhluk hidup lainnya akan selalu teringat dan diingat, sehingga mereka faham betul mana perbuatan yang jahat dan mana perbuatan yang terpuji. Dengan pemahaman watak dan karakter itulah akhirnya anak-anak akan mampu memilah dan memilih sifat-sifat yang baik yang akan disenangi oleh banyak orang serta akan berusaha meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak terpuji.

Taman Budaya: Salah Satu Wahana
          Sesuai dengan namanya, Taman Budaya adalah tempat berkumpulnya para budayawan, termasuk didalamnya para seniman. Oleh karena itu untuk memenuhi kebutuhan tentang proses belajar-mengajar masalah kesenian, disinilah tempat yang paling ideal. Para seniman dapat menyelenggarakan pelatihan-pelatihan ataupun kursus-kursus dengan materi seperti seni tari, teater, lukis dan sebagainya terutama untuk anak-anak usia Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar. Untuk kemampuan berkreasi dan berkesenian, masing-masing seniman sudah jelas akan mampu sesuai dengan bidang dan bakatnya. Tetapi untuk memenuhi keperluan yang dapat membantu dalam membangun watak anak-anak didik tersebut para seniman harus dapat memberikan muatan-muatan lain yang bersifat filosofis dari objek yang diajarkan. Apabila perlu para seniman harus kolaborasi dengan para ahli dari disiplin lain untuk mendapatkan ilustrasi dan pemahaman yang komprehensif.
         Apabila hal ini dapat diwujudkan, maka kesenian tidak hanya untuk dinikmati dari sisi materi, tetapi secara tidak langsung akan dapat pula memberikan sumbangannya pada bangsa dan negara dalam rangka pembentukan karakter manusia, nation character building yang sudah cukup lama kita pinggirkan. Namun semua ini berpulang kepada kita semua, walaupun wahana sudah kita siapkan apabila tidak mendapatkan tanggapan dari masyarakat untuk bersama-sama memikirkan dan merealisasikan, apa yang kita cita-citakan yaitu terbentuknya satu generasi yang tangguh, tanggap, dan tanggon, hanyalah sebuah impian belaka. Untuk mewujudkan gagasan tersebut di atas, pertama mempersiapkan sumber daya manusia yaitu para “seniman plus” yang tidak hanya mahir dalam bidang kesenian, tetapi mempunyai wawasan dan pemahaman yang komprehensif sehingga dapat memberikan muatan-muatan yang bersifat filosofis, spiritual, dan nilai-nilai luhur lainnya. Kedua, program seperti ini harus didukung oleh kesadaran masyarakat, sehingga mereka akan mengarahkan putra-putrinya untuk mengikuti kursus-kursus atau latihan-latihan berkesenian. Kesenian hanyalah salah satu contoh, bidang-bidang lainnyapun dapat menggunakan model seperti ini, karena tidak setiap anak senang atau tertarik untuk belajar seni.
        

Akhlak beragama

Akhlak ini merupakan akhlak atau kewajiban manusia terhadap tuhannya, karena itulah ruang lingkup akhlak sangat luas mencakup seluruh aspek kehidupan, baik secara vertikal dengan Tuhan, maupun secara horizontal dengan sesama makhluk Tuhan.[1]
Kata akhlak diartikan sebagai suatu tingkah laku, tetapi tingkah laku tersebut harus dilakukan secara berulang-ulang tidak cukup hanya sekali melakukan perbuatan baik, atau hanya sewaktu-waktu saja.[4] Seseorang dapat dikatakan berakhlak jika timbul dengan sendirinya didorong oleh motivasi dari dalam diri dan dilakukan tanpa banyak pertimbangan pemikiran apalagi pertimbangan yang sering diulang-ulang, sehingga terkesan sebagai keterpaksaan untuk berbuat.[2] Apabila perbuatan tersebut dilakukan dengan terpaksa bukanlah pencerminan dari akhlak.[2]
Dalam Encyclopedia Brittanica[5], akhlak disebut sebagai ilmu akhlak yang mempunyai arti sebagai studi yang sistematik tentang tabiat dari pengertian nilai baik, buruk, seharusnya benar, salah dan sebaginya tentang prinsip umum dan dapat diterapkan terhadap sesuatu, selanjutnya dapat disebut juga sebagai filsafat moral.[2]


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar