Total Tayangan Laman

Jumat, 17 Februari 2012

Cerita Pendek , Puis , Pantun






CERPEN , PUISI , PANTUN









Nama                     : Bonhoeffer Dietrich Tumbilung
Kelas                       : X IS -1
Guru Pembimbing       : Fonny Tumundo S.Pd


SMA NEGERI 2 BITUNG

A.        Cerpen
‘Teman’

Perjalanan kali ini membuat saya makin memahami arti sebuah kata benda yaitu teman.Seminggu yang lalu saya berkata kepada seorang teman yang baru pertama kali bertemu ‘’Dihadapan teman-teman,saya merasa tak tahu diri. Mereka memperlakukan saya terlalu baik. Saya tak tahu bagaimana caranya membalas mereka.’’ Ini semua bukan basa-basi kosong belaka,tetapi kenyataan sesungguhnya. Sesudah mengucapkan kata-kata ini pada hari kelima saya berpisah dengan teman tersebut, entah apakah masih ada kesempatan berjumpa dengannya lagi kelak. Namun demikian, setitik kehangatan yang ia telah berikan tetap menggocangkan hati saya.
Seperti biasa, saya tidak bisa menatap terlalu lama disuatu tempat. Sekalipun demikian, ditengah pencarian yang singkat itu saya masih mendapatkan secerah cahaya pelita, yang memerangi kegelapan jiwa, dan menjadikan hidup ini lebih cerah. Pelita tersebut adalah persahabatan. Sudah semestinya saya berterima kasih kepadanya, karena sejak mengandalkannya, saya bisa hidup hingga sekarang  lagipula persahabatan jualah yang mampu menghapuskan bayang-bayang keluarga yang saya tinggalkan.
Didunia ini banyak orang melupakan teman dari keluarga. Setidaknya, orang akan menarik garis batas diantara teman dan keluarga, memperlakukan keluarga sebagai sesuatu yang jauh lebih penting ketimbang teman. Hal ini seolah-olah merupakan masalah yang sudah semestinya terjadi. Saya pun telah melihat dengan mata kepala sendiri beberapa orang yang setelah menikah lalu meninggalkan teman, meninggalkan karir .
Teman hanya sementara, keluarga selamanya. Dalam berperilaku banyak orang, saya jumpai pula kepercayaan semacam ini, yang tidak dapat saya pahami. Bagi saya, jika tidak ada teman, entah bagaimana sengsaranya saya sekarang,saya sendiri tidak tahu.
Bagaimanapun teman-teman telah menolong saya. Mereka telah memberikan apa-apa yang tak dapat saya berikan oleh keluarga saya. Kasih saying, bantuan, dan dorongan semangat mereka, beberapa kali telah menyelamatkan saya dengan mengembalikan saya dari tepi jurang yang amat curam. Mereka sering kali menunjukkan pengorbanan yang amat besar terhadap saya.
Hidup yang saya jalani amat pahit, gelap. Namun demikian, teman-teman telah membagi sejumlah besar simpati, kasih, kegembiraan, dan air mata kepada saya. Semua ini merupakan kebutuhan bagi keberlangsungan hidup. Pemberian-pemberian sedekah yang tak terbalaskan ini mampu menghangatkan dan membahagiakan hidup saya. Diam-diam saya telah menerima semua itu. Saya justru belum pernah mengucapkan sepatah pun rasa syukur,juga belum pernah membalasnya dengan tindakan apapun. Tetapi teman-teman toh tidak membebani saya dengan penyebutan kebaikan-kebaikan mereka, mereka terlalu tulus terhadap saya.
Kali ini saya melewati banyak daerah baru, menjumpai banyak teman baru. Saya jadi amat sibuk, sibuk melihay,mendengar,berbicara,sibuk berjalan.Saya tidak menemui kesulitan apapun karena teman-teman telah mempersiapkan segalanya buat saya,agar saya tidak kekurangan sesuatu apapun. Setiap berkunjung ke suatu daerah baru,saya merasa seolah-olah sedang kembali ke rumah lama diShanghai yang telah dibumihanguskan Jepang.
Setiap teman, tak peduli betapa pahit hidupnya sendiri dan betapa sederhananya pun, tetap dengan tulus mau membagi banyak hal kepada saya, meskipun tahu bahwa saya cukup mampu menggantikan sedikit pun. Ada beberapa orang teman yang bahkan nama-nama mereka pun tidak saya ketahui sebelumnya, yang mengkhawatirkan kondisi kesehatan saya, dimana-mana mereka menanyakan keadaan penyakit saya hingga ketika mereka melihat sendiri wajah dan punggung saya yang terbakar sinar matahari, barulah mereka tersenyum lega. Situasi semcam ini sebenarnya benar-benar membuat orang menitikkan air mata.
Ada orang yang percaya bahwa jika saya tidak menulis tentu tidak dapat hidup. Dua bulan yang lewat, seorang teman dari shanghai yang bersimpati terhadap saya mengirimkan naskah terbitan berkalanya Harian Demokraktik Guangzhow, yang membicarakan banyak hal tentang kehidupan saya. Ia pun bilang bahwa jika seharian saya tidak menulis, maka esok hari tentu tidak makan. Ini tidak betul-betul terjadi. Perjalanan kali ini membuktikan saya. Walau seumpamanya saya tidak menulis lagi, teman-teman pun tak sudi membiarkan saya kelaparan dan kedinginan. Dunia masih memiliki banyak manusia yang dermawan , mereka sama sekali tidak beranggapan ekstrim bahwa diri sendiri dan keluarga itu penting, melampaui segalanya. Dengan mengandalkan mereka saya bisa hidup hingga kini,malahan dengan mengandalkan mereka saya masih akan hidup terus.
Teman-teman member saya amat banyak,terlalu banyal. Bagaimana bisa saya membalas mereka ? tetapi saya tahu bahwa mereka tidak butuh pembalasan.
Belum lama berselang, didalam buku peninggalan Filosof Perancis saya menemukan kata-kata seperti ini ‘’ Semua prasyarat bagi berlangsungnya kehidupan adalah pemenuhan kebutuhan. Didunia ini ada satu jenis kemuliaan yang tak dapat dipisahkan dari eksistensi kehidupan,yang tanpa kehadirannya kita tentu akan mati, akan kering dibagian dalam. Modal jika bukan motif-motif untuk kepentingan diri sendiri,tentulah bunga-bunga kehidupan.’’
Didepan mata saya sedang bermekaran kuntum-kuntum bunga kehidupan manusia. Bilamanakah hidup saya mulai  mekar ? Masa iya sekarang saya telah ‘’layu sebelum berkembang?’’
Seorang teman berkata ‘’Aku seperti pelita, aku akan menggunakan cahayaky untuk menerangi kegelapan.’’
Saya tidak menjadi  seperti pelita yang terang. Jika demikian, biarkan saya menjadi seonggok kayu bakar. Saya bersedia memancarkan panas yang saya terima dari matahari, saya bersedia dibakar hingga hancuur jadi abu untuk menyumbangkan sedikit kehangatan bagi dunia.




B.         PUISI




BENCANA ALAM



Oh bencana mengapa engkau melanda
Negeriku. Negeriku yang Indah
Betapa banyak orang yang
Menderita karena engkau
Oh Bencana engkau telah banyak



  Menyapu Ribuan Nyawa. Aku sedih melihat
Saudara-saudaraku terlempar dan mati.
Oh bencana pergilah jauh dari negeriku
Aku ingin negeri yang indah ini
Makmur dan tentram seperti sedia kala






C.         PANTUN








Kemana Kancil akan dikejar
Ke dalam pasar cobalah cari
Ketika Kecil rajin belajar
Sesudah besar senanglah hati










Tidak ada komentar:

Poskan Komentar